Cancel Culture? Budaya Palli-Palli? Cek 13 Budaya Khas Korea Selatan

Cancel Culture? Budaya Palli-Palli? Cek 13 Budaya Khas Korea Selatan

Sangat populer dan selalu menjadi tren di Asia, siapa sih yang tak kenal dengan budaya Korea Selatan? K-Pop? K-Beauty? K-Drama? K-Fashion? Semua budaya itu selalu menjadi sorotan warga dunia khususnya Indonesia.

Tetapi saat membahas tentang budaya Korea Selatan, ada sebuah prinsip yang sangat mempengaruhinya yaitu prinsip Konfusianisme. Prinsip yang telah ada sejak Dinasti Han (202 SM – 220 SM) ini erat kaitannya dengan penghormatan kepada leluhur, usia, dan senioritas untuk mendukung keharmonisan dalam kelompok.

Akibat dari pengaruh prinsip Konfusianisme bukan hanya mendominasi kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, bahkan kehidupan sosial masyarakat Korea Selatan. Selanjutnya, budaya di Korea Selatan pun terus berkembang dan menghasilkan budaya makan, tatanan aturan, sosial, dan budaya kerja. Untuk lebih lanjutnya, yuk simak ulasan berikut!

budaya khas korea selatan

Budaya Tradisional Korea Selatan

1. Budaya Mengenakan Pakaian Hanbok di Acara Adat Korea

Hanbok adalah pakaian tradisional Korea Selatan yang berasal dari dinasti Joseon. Sejak dahulu, hanbok terkenal dengan penggunaan aksen warna-warninya di setiap pakaian.

Pakaian hanbok menjadi budaya tradisional di Korea Selatan karena biasanya masyarakatnya mengenakan pakaian adat tersebut di acara spesial seperti hari perayaan Chuseok, hari pernikahan, ulang tahun, dan lain sebagainya.

Di era modern sekarang ini, masyarakat Korea Selatan telah memodifikasi hanbok tradisional menjadi hanbok modern. Letak perbedaannya adalah hanbok modern menggunakan aksesori tambahan pada kainnya seperti renda, modifikasi pada rok menjadi lebih pendek, dan penggunaan warna kainnya yang lebih beragam.

2. Budaya Menggunakan Hanok Sebagai Tempat Wisata Turis di Korea

Hanok adalah sebutan dari rumah tradisional Korea Selatan. Dinasti Joseon adalah yang pertama merancang dan membangun hanok di abad ke-14. Hanok sendiri memiliki makna sebagai rumah ideal yang dibangun dengan pemandangan gunung di belakang dan sungai pada bagian depan.

Di Korea Selatan, hanok menjadi cagar budaya. Maka dari itu, pemerintah negeri ginseng memanfaatkan hanok untuk menjadi tempat wisata berikut dengan desa yang masih memiliki bangunan tradisional tersebut.

BACA JUGA: Punya Sejarah yang Panjang, Beginilah Sistem Pendidikan di Korea Selatan

Budaya Makan Korea Selatan

1. Harus Ada Kimchi Apapun Hidangannya

Kimchi adalah hidangan wajib di setiap meja makan masyarakat Korea Selatan. Pada sejarahnya, masyarakat Korea menyiapkan kimchi sebelum musim dingin tiba agar memastikan bahwa nutrisi mereka bisa terpenuhi.

Telah menjadi tradisi untuk menghidangkan kimchi di meja makan apapun hidangannya. Sehingga menjadikan orang Korea merasa wajib untuk mengkonsumsi kimchi berdampingan dengan santapan seperti bibimbap, nasi goreng, hingga mie rebus.

2. Menggunakan Sumpit Merupakan Table Manner

Etika makan di Korea Selatan adalah menggunakan sumpit. Biasanya orang tua akan menyajikan sendok dan garpu bersamaan dengan sumpit. Kemudian cara penggunaannya adalah sendok untuk menyantap nasi dan sup, sedangkan sumpit untuk menyantap hidangan lain.

3. Ada Banyak Street Food

Masyarakat Korea Selatan sangat mengagungkan makanan lezat. Selain itu budaya untuk melahap makanan dengan baik juga menjadi sebuah keharusan bagi setiap anak.

Banyaknya street food di Korea Selatan adalah salah satu yang membuat dunia malam terkenal sangat asyik. Street food yang ada biasanya menyajikan makanan jajanan khas seperti odeng (otak-otak), tteokbokki (kue beras), sundae (usus sapi), bungeoppang (kue ikan), dan masih banyak lagi.

Pedagang street food di Korea Selatan biasanya mendirikan tenda kecil di pinggir jalan atau di tempat yang memang disediakan untuk para tenant. Pembeli pun akan berdatangan mengunjungi tempat favoritnya untuk memakan hidangan pilihan dengan harga yang terjangkau.

4. Tidak Bisa Hidup Tanpa Layanan Pesan Antar Makanan

Hampir seluruh masyarakat Korea sangat suka untuk menggunakan layanan pesan antar makanan, karena merupakan proses yang simpel dan tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga.

Tren menggunakan layanan pesan antar makanan yang sangat merajalela ini membuat banyak restoran Korea sangat memperhatikan cara mengemas makanannya dan kecepatan waktunya.  Sehingga saat makanan tiba nantinya akan masih dalam keadaan hangat seperti makan langsung di restoran.

Tetapi tidak berhenti sampai disitu, bagian terbaiknya adalah banyak restoran yang memberikan kupon gratis kepada pelanggan setianya walaupun tidak makan langsung di restoran. Sehingga bisa menghemat biaya antar yang terbilang mahal.

5. Budaya Minum Alkohol yang Kuat

Menurut WHO, masyarakat Korea Selatan terkenal menjadi peminum alkohol paling kuat di Asia. Biasanya soju adalah minuman alkohol yang dikonsumsi. Untuk acara minum alkohol di Korea Selatan sangat beragam, mulai dari untuk pribadi, acara selebrasi, untuk melepas penat bekerja, dan banyak lainnya.

Tetapi walaupun memiliki budaya minum alkohol yang kuat, pemerintah Korea Selatan sangat ketat dalam menjalankan aturan usia legal untuk minum alkohol yang mana adalah 20 tahun (umur Korea).

BACA JUGA: Mau Kuliah Gratis? Ini Informasi Lengkap Beasiswa Korea Selatan Tahun 2022

Budaya Aturan Korea Selatan

1. Umur Di Korea Selatan Nambah Satu Tahun

Selanjutnya budaya Korea Selatan yang unik adalah terkait penambahan umurnya. Pada saat bayi baru lahir, para orang tua di Korea Selatan telah menganggap bahwa bayi tersebut telah berumur satu tahun. Cara perhitungan umur di Korea Selatan ini telah menjadi tradisi, sehingga masyarakatnya hingga kini masih menggunakan sistem ini.

2. Ketatnya Aturan Menghormati

Lingkungan sosial di Korea Selatan menuntut masyarakatnya untuk terus menaati peraturan terutama aturan untuk menghormati orang yang lebih tua. Cara menghormati orang yang lebih tua biasa dilakukan dengan tunduk pada pendapat mereka, menundukkan pandangan, menerima makanan atau hadiah dengan dua tangan, dan lain sebagainya.

Selanjutnya walaupun di Korea Selatan sangatlah terkenal dengan industri hiburannya, tetapi pelaku dalam industri sangat menjunjung batas hormat kepada orang yang lebih tua dari mereka. Sehingga candaan yang dilontarkan masih dalam konteks yang wajar dan tidak melewati batas.

3. Menilai Kecocokan dengan Golongan Darah/MBTI

Bagi anak muda di Korea Selatan, menanyakan golongan darah adalah hal yang wajar untuk menilai kecocokan mereka di awal pertemuan. Biasanya dengan mengetahui tipe golongan darah orang yang baru ditemuinya, mereka akan bisa menilai kepribadian, mengukur tingkat kecocokan, hingga temperamen satu sama lain.

Tetapi budaya menanyakan golongan darah di Korea Selatan saat ini berangsur tergantikan dengan pertanyaan terkait tipe MBTI sejak 2021 kemarin. Pada akhirnya, tidak menutup kemungkinan juga khususnya bagi anak muda untuk menanyakan golongan darah berbarengan dengan tipe MBTI.

4. Wajib Membawa Tisu Toilet di Pesta Rumah Baru

Tisu toilet telah menjadi hadiah paling populer untuk orang yang merayakan pesta rumah baru di Korea Selatan. Hal ini terjadi karena pada zaman dahulu saat masih menjadi negara miskin dan harga tisu toilet yang mahal, masyarakat Korea tidak mampu untuk membelinya. Sehingga sekarang ini, mereka percaya bahwa tisu toilet bisa mendatangkan kesejahteraan yang melimpah.

Budaya Sosial dan Kerja di Korea Selatan

1. Cancel Culture

Cancel culture atau budaya pengenyahan sangatlah sering terjadi pada kehidupan sosial di Korea Selatan. Budaya pengenyahan ini kerap kali terjadi pada industri hiburan saat ada publik figur yang melakukan kesalahan.

Kesalahan yang muncul biasanya adalah akibat dari melanggar hukum oleh idol K-Pop seperti berjudi, menggunakan narkoba, melakukan pelecehan seksual, hingga tindak kekerasan pada teman sekolahnya.

Selanjutnya setelah masalah tersebut muncul, budaya pengenyahan akan berjalan dengan skema dari masyarakat Korea (K-netz) untuk mengenyahkan tokoh tertentu. Tujuannya adalah agar tokoh/publik figur yang membuat masalah tidak mendapat kesempatan untuk kembali tampil di muka publik.

2. Budaya Palli-Palli

“Pali-pali” atau cepat-cepat menjadi budaya kerja di Korea Selatan. Mulai dari rutinitas sehari-hari hingga di tempat kerja, masyarakat Korea Selatan sering menggunakan budaya palli-palli.

Sehingga saat berada di tempat kerja dan menemukan atasan yang tidak sabaran, sudahlah menjadi hal wajar. Karena perusahaan menuntut bahwa pekerjaan harus diselesaikan sesegera mungkin, memiliki jadwal kerja yang padat, dan kesibukan yang tinggi.

Ingin Menerjemahkan Dokumen untuk Daftar Beasiswa?

Mediamaz TS bisa membantu Anda dengan layanan penerjemah tersumpah dan legalisasi yang tersedia. Layanan penerjemah tersumpah kami telah berpengalaman membantu pelajar yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri dengan menerjemahkan dokumen pendidikan ke lebih dari 12 bahasa asing.

Dokumen yang telah diterjemahkan pun bisa langsung dilegalisasi ke instansi pemerintah terkait. Sehingga cukup dari rumah dan tidak perlu repot, legalisir dokumen pun selesai! Segera konsultasikan kebutuhan Anda melalui kontak yang tersedia sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.